Berbicara tentang Toraja jelas yang paling kental dan terkenal adalah budayanya. banyak orang yang datang ke Toraja untuk melihat langsung prosesi adat pemakaman rambu solo, ke kuburan batu, atau membeli souvenir dan kain khas toraja.
pada kesempatan lalu ketika mengunjungi Sa'dan to barana, sebuah perkampungan kecil yang masyarakat menggantungkan hidupnya dari menjual kain hasil tenunannya.
Tambatan mata saya tertuju pada seorang nenek yang sedang memintal berkepal-kepal kapas menjadi helaian benang putih yang nantinya akan di rendam lagi dengan pewarna. Kapas yang telah dijemur beberapa hari itu dipilin lalu ditarik ujungnya dengan ditautkan dan dibelitkan pada roda lalu diputar dengan lincahnya. Pilinan di atur agar memiliki ukuran besar yang sama hingga menjadi gulungan-gulungan benang dalam kepalan. Terkadang ada yang putus namun dengan kemolekkan jari-jarinya yang mulai keriput dan bergetar halus di satukan kembali.
Nenek Pugau nama nenek itu, hidupnya dan masyarakat di desa saddan to barana digantungkan dari hasil penjualan kain tenun. Harganya macam-macam dari 100.000 sampai Jutaan, tegantung dari tingkat kerumitan. Rasanya wajar saja karena proses pembuatan tidak terbilang instan dan membutuhkan ketelitian yang extra, bayangkan saja bila ada setitik saja kesalahan dalam penenunan maka harus di gunting lalu ulang lagi, walaupun bukan dari awal sih tapi hal itu tidak semudah menghapus kesalahan pensil pada kertas.
Andai saja generasi penerus nenek pugau sadar betapa anggun nya wanita toraja dalam kemolekannya menenun kain khas mereka, Betapa Indahnya motif-motif yang dihasilkan, dan betapa kayanya Budaya Indonesia ini. hanya saja mulai tergerus zaman tidak hanya di Toraja, didaerah lain pun banyak yang begitu memprihatinkan.
pada kesempatan lalu ketika mengunjungi Sa'dan to barana, sebuah perkampungan kecil yang masyarakat menggantungkan hidupnya dari menjual kain hasil tenunannya.
| Nenek pemintal benang di Desa Sa'dang To Barana |
Nenek Pugau nama nenek itu, hidupnya dan masyarakat di desa saddan to barana digantungkan dari hasil penjualan kain tenun. Harganya macam-macam dari 100.000 sampai Jutaan, tegantung dari tingkat kerumitan. Rasanya wajar saja karena proses pembuatan tidak terbilang instan dan membutuhkan ketelitian yang extra, bayangkan saja bila ada setitik saja kesalahan dalam penenunan maka harus di gunting lalu ulang lagi, walaupun bukan dari awal sih tapi hal itu tidak semudah menghapus kesalahan pensil pada kertas.
Andai saja generasi penerus nenek pugau sadar betapa anggun nya wanita toraja dalam kemolekannya menenun kain khas mereka, Betapa Indahnya motif-motif yang dihasilkan, dan betapa kayanya Budaya Indonesia ini. hanya saja mulai tergerus zaman tidak hanya di Toraja, didaerah lain pun banyak yang begitu memprihatinkan.