10/2/16

Semaraknya Pelaksanaan Karia'a di Festival Barata Kahedupa



Leggooo.... Leggooooo....

Legoo… Legoo….
Teriakkan lantang  para masyarakat kaledupa yang sedang mengikuti Pelakasanaan Karia’a di Festival Barata Kahedupa.  Matahari memang terik sekali kala itu, namun tak memundurkan semangat para peserta Karia’a dalam mengikuti acara adat tersebut. Karia’a hanyalah salah satu dari rangkaian kegiatan dalam Festival Barata Kahedupa yang berlangsung selama 7 Hari. Karia’a adalah suatu tradisi berupa sunatan dan pemotongan rambut bagi anak perempuan yang dilakukan masyarakat Kaledupa  (umumnya dilakukan juga di bebearapa daerah lain di Sulawesi Tenggara) untuk anaknya yang mulai beranjak dewasa. Pakaian adat warna-warni dan meriah menjadi ciri khas Pelaksanaan ini, Seperti dalam bahasa lokalnya Karia’a berarti kemeriahan.

Sebelum di karia para peserta putri harus dipingit terlebih dahulu yang dinamakan 'Sombo'.
Prosesi karia’a ini di bagi dua, pelaksanaan untuk peserta putera atau Henauke nu mo’ane  pada hari pertama, mereka diarak dari mesjid menuju ke lapangan menuju ke tempat prosesi karia’a ini akan berlangsung.
Dan hari berikutnya untuk peserta putri  atau Henauke nu wowine, mereka di tandu dari rumah masing-masing menuju lapangan seperi hari pertama. Proses ini disebut kasonda’a dan di bawa oleh para pria dari pihak keluarga masing-masing. Baik Henauka nu mo’ane ataupun Henauka nu wowine keduanya sama semarak dan meriahnya. Selama diarak semua masyarakat meneriakka ‘Legoo.., Legoo..’ Yang artinya ‘Angkat atau Gerakkan’ sebagai penyemangat yang membawa Kasonda’a.

Dari kegiatan karia’a ini saya merasa takjub dengan para orang tua yang menggendong anaknya dari mesjid menuju lapangan yang memakan jarak sekitar 3-4 Km ditengah teriknya tengah hari. Saya saja yang hanya menenteng satu kamera kelelahan saat mengikuti arak-arakan untuk mengambil gambar.
Begitupun dengan peserta putri, pancaran mata keluarga yang ikut mengarak tandu serta teriakkan lantang seolah mereka bangga memiliki putri yang mulai beranjak dewasa.
Kegiatan ini sempat terganggu di tengah acara Henauka no wowine, karena hujan sekitar  setengah jam. Dan saya tak melihat semangat mereka gugur sedikitpun, bahkan ada yang tetap membawa tandu dengan riangnya tanpa mempedulikan derai hujan yang kian deras. Setelah hujan berhenti kegiatan pun kembali berjalan seperti susunan acara.
Dan dibawah ini adalah hasil gambar yang saya dapatkan selama proses pelaksanaan Karia’a Henauka Mo’ane dan Henauka Wowine.
Digendong papah

Henauka no mo'ane
Little boy and his daddy and Elsa frozen's umbrella
Karia boys
Seoreang Ayah menghias rambut anak gadisnya sebelum naik diatas tandu
Kasonda'a

Diarak dengan semangat oleh pemuda kahedupa


terkadang disisipkan uang di atas tandunya

Gadis-gadis Karia

Penyanyi lokal asal pulau tomia

Juga di hadiri Sultan Buton dan Panglimanya

Di tandu dari rumah ke lapangan

Pasangan Karia'a

Malu-malu

No comments: