 |
| Leggooo.... Leggooooo.... |
Legoo… Legoo….
Teriakkan
lantang para masyarakat kaledupa yang
sedang mengikuti Pelakasanaan Karia’a di Festival Barata Kahedupa. Matahari memang terik sekali kala itu, namun tak
memundurkan semangat para peserta Karia’a dalam mengikuti acara adat tersebut.
Karia’a hanyalah salah satu dari rangkaian kegiatan dalam Festival Barata
Kahedupa yang berlangsung selama 7 Hari. Karia’a adalah suatu tradisi berupa
sunatan dan pemotongan rambut bagi anak perempuan yang dilakukan masyarakat Kaledupa (umumnya dilakukan juga di bebearapa daerah lain di Sulawesi Tenggara)
untuk anaknya yang mulai beranjak dewasa. Pakaian adat warna-warni dan meriah
menjadi ciri khas Pelaksanaan ini, Seperti dalam bahasa lokalnya Karia’a berarti
kemeriahan.
Sebelum di karia para peserta putri harus dipingit terlebih dahulu yang dinamakan 'Sombo'.
Prosesi karia’a
ini di bagi dua, pelaksanaan untuk peserta putera atau Henauke nu mo’ane pada hari pertama, mereka diarak dari mesjid
menuju ke lapangan menuju ke tempat prosesi karia’a ini akan berlangsung.
Dan
hari berikutnya untuk peserta putri atau
Henauke
nu wowine, mereka di tandu dari rumah masing-masing menuju lapangan seperi hari
pertama. Proses ini disebut kasonda’a
dan di bawa oleh para pria dari pihak keluarga masing-masing. Baik Henauka nu mo’ane ataupun Henauka nu wowine keduanya sama semarak
dan meriahnya. Selama diarak semua masyarakat meneriakka ‘Legoo.., Legoo..’ Yang artinya ‘Angkat atau Gerakkan’ sebagai
penyemangat yang membawa Kasonda’a.
Dari
kegiatan karia’a ini saya merasa takjub dengan para orang tua yang menggendong
anaknya dari mesjid menuju lapangan yang memakan jarak sekitar 3-4 Km ditengah
teriknya tengah hari. Saya saja yang hanya menenteng satu kamera kelelahan saat
mengikuti arak-arakan untuk mengambil gambar.
Begitupun
dengan peserta putri, pancaran mata keluarga yang ikut mengarak tandu serta
teriakkan lantang seolah mereka bangga memiliki putri yang mulai beranjak
dewasa.
Kegiatan ini
sempat terganggu di tengah acara Henauka no wowine, karena hujan sekitar setengah jam. Dan saya tak melihat semangat
mereka gugur sedikitpun, bahkan ada yang tetap membawa tandu dengan riangnya
tanpa mempedulikan derai hujan yang kian deras. Setelah hujan berhenti kegiatan
pun kembali berjalan seperti susunan acara.
Dan dibawah
ini adalah hasil gambar yang saya dapatkan selama proses pelaksanaan Karia’a Henauka Mo’ane dan Henauka Wowine.
 |
| Digendong papah |
 |
| Henauka no mo'ane |
 |
Little boy and his daddy and Elsa frozen's umbrella
 |
| Karia boys |
|
 |
| Seoreang Ayah menghias rambut anak gadisnya sebelum naik diatas tandu |
 |
| Kasonda'a |
 |
| Diarak dengan semangat oleh pemuda kahedupa |
 |
| terkadang disisipkan uang di atas tandunya |
 |
| Gadis-gadis Karia |
 |
| Penyanyi lokal asal pulau tomia |
 |
| Juga di hadiri Sultan Buton dan Panglimanya |
 |
| Di tandu dari rumah ke lapangan |
 |
| Pasangan Karia'a |
 |
| Malu-malu |
No comments:
Post a Comment