12/20/17

My Story about TF Scale Study Exchange to Singapore (EN)

I began this article while remind my past 3 weeks in Singapore with the TFScale Student Exchange Batch IV 2017 Alumnus and It took me back to that gold days where we were having fun in sentosa island, walking in the rain to the Woodlands waterpark,  Kayaking in Ubin island, Trekking in Sungeibuloh and many more.

Before I exposed more stories and photos, let me explained you about this program.
So, TF SCALE (Brief of : Temasek Foundation Specialists’ Community Action and Leadership Exchange) is a student leadership exchange programme framework designed to build bridges between student leaders in Technical and Vocational Education and Training (TVET) universities and polytechnics across the Asian region. The goals of each programme are to ; Promote mutual understanding,  Build cross-cultural networks and  Develop leadership skills.

Basically the programme framework can be modified accordingly to the needs and pedagogical philosophy of each educational institution with the intrinsic goals remaining constant and as my major is tourism management the topic of program more about Sustainable Tourism and Experience Visitor.

The participant of this year which took a place in Republic Polytechnic  Singapore was about 80 Students from different country (Singapore, Indonesia, Vietnam and Myanmar). But then We seperated in different topic, cause there're also Information Technology, Engineering and  Agriculture beside Tourism. So, the Tourism only had 40 students ( 20 singaporean and 20 Indonesian) The Indonesian Tourism Student's come from 6 universities under Tourism Ministry. I am one of 4 representatives from Makassar Tourism Polytechnic. Here is my team.

Weird Team Pose in Helix bridge (left to right- Alfian, Me, Vinny and Zulkifli)


The first words come from my mind when morning phone from my lecturer about  the  test announcement  was like, 'Is it real? Whoaa.. I could finally step my feet in this merlion country '. Then, Me and All the representative met the director to a little brief about this program and what should We prepared for that. It was 1 month preperation before the flight. I was not worry about my passport, cause, The expirated date will be on March 2018. and I am more concerned to prepared my field research in North Moluccas. Until my friend told me that I can't use passport with less than 6 month expirated date. My flight supposed to on 2nd October (the RP has booked the ticket) so it less than 6 month. I am really worried and progressing my passport really soon after I back from my research. Lucky, it could be done a week before the flight. Fiuuh..  :3



We are finally arrived in Changi international Airport after 2 hours delay and Guess what? We're the latest team arrived. I feel so sorry to Ms. Candace, Shermaine and Bevelynn who had waiting too long. First impressed they were so friendly, Like seriously, I was nerveous to meet the RP Student but these girls makes me feel welcome and not so nervous anymore. Then, they pick us by bus to Campus height Republic Polytechnic in Woodlands it took about 30 minutes or more cause I kinda jetlag and forgot. On the Bus We talked a lot thing about our campus and compared it and I truly like their excitement talking to us. And in 19.20 we arrived in campus height, Mr. Jason was there, giving us room card, explained dorm rules, and brief about  tomorrow activity. I got the same room with vinny and the other girls are Pradniyani and Miswadita from Bali, Rika from Palembang and Trisna from Lombok. I am bit surprised with the facilities, There's kitchen, Refrigerator, Tv, living room, washing machine , dining room, 2 toilets, and even studying room. From Balcon I could see campus view, sport area and big swimming pool. And I was like "What an amazing campus!! I can't wait for tomorrow."

Room's Facilitate
Republic Polytechnic Singapore buiding

12/8/17

Pulau Ubin, Kampung tua di Singapura

Apa yang terlintas dipikiranmu saat mendengar Negara Singapura ? Modern, Sophisticated, Shopping etc.. ect… kan? Tapi tau kah kalian kalau di Singapura juga masih banyak daya tarik wisata yang mengusung tema alam, konservasi dan pedesaan. Sangat jarang wisatawan yang mengetahui akan keberadaan daya tarik wisata tersebut. Karena rata-rata tujuan utama wisatawan mancanegara memanglah untuk berfoto dengan Patung Merlion, belanja di Orchard Street atau bermain di Universal Studio Singapura. Ditulisan kali ini saya ingin membahas salah satu ‘the last rural areas’ di Singapura. Namanya, Pulau Ubin. Karena, letaknya yang memang berada di sebuah pulau yang juga disebut sebagai Kampung terakhir di Singapura.
 
Peta Zonasi Pulau Ubin
Pulau Ubin ini terletak di Selat Johor sebelah timur dari Bandara International Changi. Luasnya sekitar 10km2. Untuk mencapai Pulau Ubin kalian bisa menggunakan MRT (Mass rapid system) lalu turun di stasiun bawah tana merah lalu lanjut dengan bus SBS transit No. 2 menuju Changi Village Terminal dan dari sana langsung menuju Changi Point Ferry yang letaknya sangat mudah ditemukan kalian tinggal menuruni tangga yang terdapat tanda panah.
Wisatawan harus mengantri dan melawati jalur keamanan, X-ray barang bawaan. Perlu diingat, di Singapura cukup ketat dalam hal penjagaan dan keamanan. Wisatawan tidak boleh mengambil gambar sembarangan, khususnya pada jalur keamanan. Salah seorang teman saya beberapa kali kena teguran karena mengambil gambar di tempat keamanan atau memotret anak orang. Meskipun mereka sangat menggemaskan, tetap jaga sikap yah!


Harga sewa kapal atau disebut juga bumpboat sekali perjalanan (one way) adalah sebesar $3/orang.
Asal mula nama Pulau Ubin ini adalah pada zaman  dahulu, Pulau yang berpenduduk mayoritas Melayu ini ditemukan tambang granit yang kemudian digunakan sebagai bahan dasar lantai atau Ubin. Namun pada tahun 1999 tambang granit resmi di tutup. Dan tepatnya pada 3 Juni 2005, Beberapa petani unggas juga di beri pilihan untuk pindahkan ke Kota singapura dan di pelihara di perkebunan yang diakui pemerintah karena saat itu sedang marak wabah flu burung dari Malaysia dan difasilitasi HDB (Housing and Development Board) yaitu perumahan publik milik Negara.

Hingga kini, Pulau Ubin bisa saja terancam punah jika tidak dilestarikan. Untung saja, aktivitas wisata masih tampak dan dari sana masyarakat pulau ubin mendapatkan keuntungan, beberapa rumah menyediakan tempat penyewaan sepeda, mulai dari sepeda ontel, hingga sepeda gunung bermerk.


Guide kami yang sangat ramah
Saat berkunjung disana, saya dan rombongan didampingi seorang guide yang memang specialis konservasi dan alam, namanya Mr. Lee. Dia bukan warga asli Pulau Ubin, namun menerima permintaan paket kampong tur di Pulau Ubin.
Kalau ingin mengetahui perbandingan sebenarnya Pulau Ubin yang sekarang sudah sangat berbeda dengan yang dulu, dari pandangan pengelolaan  pemerintah merubah sedikit demi sedikit seperti menyemen  untuk jalur sepeda, beberapa rumah tradisional ‘ Attap house’ juga tidak terlalu banyak. Serta, Penduduknya mulai berkurang dan berpindah kekota. Beberapa dampak dari pembangunan dan aktivitas kota utama singapura juga menganggu ekosistem di sekitar pulau ubin, margasatwa mulai berkurang meski masih sempat beberapa kali saya mendapati bayi babi rusa yang lewat dan hewan laut seperti mudskipper, kepiting, dan burung.
Selain ekosistemnya, beberapa tujuan wisata lain seperti quarry sisa tambang yang kini dijadikan tempat kayaking, Kuburan muslim dan juga Check Jawa Wetlands. Di Pulau ini Ada 5 quarry, salah satu tempat kayaking saya dan rombongan kala itu adalah Ubin Quarry yang dikelola oleh Klub dari Sport School di Republic Polytechnic. Selain itu, bagi kalian yang senang trekking juga bisa naik ke atas yang jaraknya sekitar 20 menit jalan kaki dari rumah warga yang waktu itu kami tempati makan bertuliskan “Oh yeah.. Oh yeah.. Why you so like that, Buy a drink laa” :D


Instruktur yang juga mahasiswa dari School of Sport di Republic Polytehcnic

Pemandangan dari atas sana memang menyegarkan mata, Terdapat sebuah pagar pembatas yang sebenarnya tidak boleh dilewati karena berbahaya takut terjadi longsor atau tergelincir, dari balik pagar saya mematung melihat jernih air dari Ubin quarry sambil menahan bawaan diri ingin menyanyi A whole new world. Hehe Beberapa kawan saya yang dari singapura meneriakkan kata-kata untuk mendengar pantulan suara sendiri. (dan Saya hampir terbawa suasana ikut meneriakkan nama mantan *eh)
Nah, bagi kalian yang berniat mengunjungi Singapura bolehlah Pulau Ubin dimasukkan dalam itinerary, Karena sisi lain dari Singapura ini patutlah di lestarikan. Jadi jika kalian pulang dari Negara Canggih ini tidak hanya membawa oleh-oleh tapi juga ada pengalaman dan cerita yang luar biasa.


Pemandangan quarry atau bekas tambang granit, jernih banget kan airnya <3

Angga permanap salah seorang anggota rombongan dari Bali

George kawan saya dari Singapura. "Kok galau gitu Abang?" hehe

Kawan dari School of Hospitality, rombongan kami juga (Weesiang, Sewteeng, Amellia and Calvin)

Lihat juga video marketing campaign dibawah hasil kolaborasiku dengan tim. Angga, Ricky, Sew teeng dan Christine.