12/2/16

A little escape around Wangi-wangi, Wakatobi



Ohey.. Rifka is back!!
Sepertinya saya harus lebih rajin mengulas perjalanan selama intership program di Wakatobi, sekarang tersisa 2 bulan lagi, rindu yang beranak-pinak ini akan segera terobati. Wait me home Momma, Daddy, Sistaa :*
Saya tipikal orang yang  selalu ingin mengabadikan momen lewat foto, video dan tulisan. Mungkin salah satu alasannya karena saya pelupa, meskipun kenangan berharga pastinya tidak terlupakan semudah menghilangkan noda membandel dengan rinso :D tapi tidakkah pepatah latin kuno favorit saya 
“Vorba Valent, Scripta manent

yang artinya "Apa yang dikatakan, akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi",. Begitupun dengan pengalaman, kalau hanya di rasakan tanpa di abadikan melalui tulisan atau gambar digital akan mudah terlupakan, memang benar adanya.

Sebulan ini saya kurang sekali melakukan perjalanan,  Bukan waktu yang sangat minim untuk berkelana, tapi seorang 'teman pemandu' untuk menemani. biar kesannya nggak sendiri aja gitu.. apalagi belum terlalu fasih berkendara sendiri.

Jadi, saat itu di tengah lamunanku kala rasa benar ingin jelajah menyeruak, seorang kawan dari perkuliahan yang sama hanya berbeda jurusan yang ku ketahui keberadaannya ternyata di tempat magang yang sama denganku kala tak sengaja berjumpa di pasar ikan sore itu, meng-text dan mengajakku explore one day trip bareng.. benar serasa ada yang menghilangkan dahaga kelanaku. 
Sabtu itu, langit wangi-wangi memang sedang mendung. Tapi tentu hal sekecil itu tak akan menyulut kobaran semangat kelanaku. Saya dan kawan dari kampus yang sama, namanya Inmas yang kebetulan dan ternyata magang di Resort Patuno, sekitaran Wangi-wangi. It has been 3 months dan saya baru tau karena pertemuan di pasar itu :D
Ada beberapa View point umum yang kami kunjungi saat itu, Wakatobi tak sekedar pantai loh kawan. Saya tidak ingin basa-basi terlalu panjang, tapi mungkin ini juga bisa jadi referensi untuk readers yang sedang membuat perencanaan untuk mengunjungi Wakatobi khususnya Wangi-wangi.





1. Permandian Kontamale
Di kawasan permandian ini airnya jernih dan segar sekali, tempatnya serupa goa di tengah kota, (tapi nggak kota banget juga sih). Kedalamannya agak lumayan untuk anak kecil, kalau dewasa saya rasa pas lah bagi yang bisa berenang. Pada saat weekend tempat ini akan ramai dikunjungi semua usia.


2. Toliamba
Sebelumnya saya sudah pernah ke toliamba tapi hanya di patung lumba-lumba, padahal ada pemandangan yang lebih indah lagi dimana mata bisa lebih puas melihat pemandangan wangi-wangi dan pulau sekitarannya dari puncak toliamba, yaitu di tulisan Toliamba Wakatobi. 2 minggu lalu tulisannya masih lengkap, entah mengapa kemarin itu hilang 3 huruf. Mungkin pengaruh angin kencang semalam.




3. Pantai Cemara
Seperti namanya disana memang ada pohon cemara walaupun lebih dominan pohon kelapa, yang penting ada :D, Pasirnya putih sekali, mengingatkan saya pada kampung halaman Pantai Tanjung Bira. Ada beberapa gasebo yang di bangun, di depan pantai ada bangunan DCDC Wakatobi, sebuah dive company yang belum lama berdiri. Jadi setelah lihat lautnya tiba-tiba keingin nyelam/dive jadi gampang !

4. Waha Mercusuar
Seperti mercusuar pada umumnya, salah satu favorit remaja disana untuk berselfie ria dengan Wide Lense camera action  berlatarkan lautan biru berbaur hijau pepohonan rindang pulau wangi-wangi. Yang kurang adalah aksesibilitas menuju lokasi yang berbatu. Masalah lainnya adalah karena mercusuarnya waktu saya ke sana sedang di tutup karena suatu hal. Tapi, jangan khawatir, pemandangan dari bawah mercusuar juga tidak kalah menarik kok!


 
5. Patuno resort
Dan tujuan terakhir perjalanan sabtu siang itu adalah di Patuno resort (tempat magang teman saya itu), Patuno resort ini menjadi salah satu best accomodation bagi wisatawan yang berkunjung, dengan pemandangan laut di depan restoran dan ada pulau kecil yang hampir menyerupai hati di tengah laut dekat dari bibir pantai.
My One day trip Partner in Wakatobi, Inmas Safei.
Sekian dulu untuk postingan hari ini, jari jemari lentik ini sudah lelah, hehe See you on my next trip.

10/11/16

Gadis Langsir

http://www.healingforoursoulgarden.com/
Duduk manis diatas pasir
Tak layak pula disebut fakir
Namun tampak begitu langsir
Panas matahari tak juga mengusir
gadis terkucil tetap hadir
Tak bawa uang bisa mendapat akhir
Tanpa uang ada yang berdesir
Menuntut hasil bernyinyir
Tanyanya Kenapa kamu terlahir
Hanya membawa hidup yang satire
Mencaci penuh sindir
Gadis terkucil penuh getir
Pancar mata penuh khawatir
Sudahlah hidup menjadi takdir
Ego adalah kusir
Tak diberi makan bahkan air
Lebih kejam dari sipir

10/2/16

Semaraknya Pelaksanaan Karia'a di Festival Barata Kahedupa



Leggooo.... Leggooooo....

Legoo… Legoo….
Teriakkan lantang  para masyarakat kaledupa yang sedang mengikuti Pelakasanaan Karia’a di Festival Barata Kahedupa.  Matahari memang terik sekali kala itu, namun tak memundurkan semangat para peserta Karia’a dalam mengikuti acara adat tersebut. Karia’a hanyalah salah satu dari rangkaian kegiatan dalam Festival Barata Kahedupa yang berlangsung selama 7 Hari. Karia’a adalah suatu tradisi berupa sunatan dan pemotongan rambut bagi anak perempuan yang dilakukan masyarakat Kaledupa  (umumnya dilakukan juga di bebearapa daerah lain di Sulawesi Tenggara) untuk anaknya yang mulai beranjak dewasa. Pakaian adat warna-warni dan meriah menjadi ciri khas Pelaksanaan ini, Seperti dalam bahasa lokalnya Karia’a berarti kemeriahan.

Sebelum di karia para peserta putri harus dipingit terlebih dahulu yang dinamakan 'Sombo'.
Prosesi karia’a ini di bagi dua, pelaksanaan untuk peserta putera atau Henauke nu mo’ane  pada hari pertama, mereka diarak dari mesjid menuju ke lapangan menuju ke tempat prosesi karia’a ini akan berlangsung.
Dan hari berikutnya untuk peserta putri  atau Henauke nu wowine, mereka di tandu dari rumah masing-masing menuju lapangan seperi hari pertama. Proses ini disebut kasonda’a dan di bawa oleh para pria dari pihak keluarga masing-masing. Baik Henauka nu mo’ane ataupun Henauka nu wowine keduanya sama semarak dan meriahnya. Selama diarak semua masyarakat meneriakka ‘Legoo.., Legoo..’ Yang artinya ‘Angkat atau Gerakkan’ sebagai penyemangat yang membawa Kasonda’a.

Dari kegiatan karia’a ini saya merasa takjub dengan para orang tua yang menggendong anaknya dari mesjid menuju lapangan yang memakan jarak sekitar 3-4 Km ditengah teriknya tengah hari. Saya saja yang hanya menenteng satu kamera kelelahan saat mengikuti arak-arakan untuk mengambil gambar.
Begitupun dengan peserta putri, pancaran mata keluarga yang ikut mengarak tandu serta teriakkan lantang seolah mereka bangga memiliki putri yang mulai beranjak dewasa.
Kegiatan ini sempat terganggu di tengah acara Henauka no wowine, karena hujan sekitar  setengah jam. Dan saya tak melihat semangat mereka gugur sedikitpun, bahkan ada yang tetap membawa tandu dengan riangnya tanpa mempedulikan derai hujan yang kian deras. Setelah hujan berhenti kegiatan pun kembali berjalan seperti susunan acara.
Dan dibawah ini adalah hasil gambar yang saya dapatkan selama proses pelaksanaan Karia’a Henauka Mo’ane dan Henauka Wowine.
Digendong papah

Henauka no mo'ane
Little boy and his daddy and Elsa frozen's umbrella
Karia boys
Seoreang Ayah menghias rambut anak gadisnya sebelum naik diatas tandu
Kasonda'a

Diarak dengan semangat oleh pemuda kahedupa


terkadang disisipkan uang di atas tandunya

Gadis-gadis Karia

Penyanyi lokal asal pulau tomia

Juga di hadiri Sultan Buton dan Panglimanya

Di tandu dari rumah ke lapangan

Pasangan Karia'a

Malu-malu

9/30/16

Tradisi adat Hewale-Walea di Desa Liya Togo


Sepertinya sudah lama sekali tidak menyapa dengan kisah baru, Beberapa minggu kemarin sedang banyak event, Yailah.. sok sibuk. Tapi memang sih, sekarang saya sedang melaksanakan Program Magang di Kantor Swisscontact Wisata II Wakatobi, Asik donk yah.. Magangnya di salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia, lah iaa..  Selama program magang, Saya memegang Community Based Tourism atau Desa Wisata.

Berbicara tentang Desa Wisata, Di Wakatobi ada 3 Desa Wisata, Desa Wisata Liya Togo di Wangi-Wangi , Desa Wisata Limbo Langge di Kaledupa  dan Desa Wisata Kulati di Tomia timur.
Sebelumnya Saya sudah pernah menceritakan di blog ini tentang betapa indahnya pemandangan di Tomia, salah satunya di Desa Kulati.

Kali ini Saya ingin mengajak Readers untuk mengunjungi Desa Wisata Liya Togo, beruntung sekali saat itu Saya dihubungi oleh Bu mursidah, sebagi ketua Keppo Oli (Kelompok Pariwisata Liya Togo) kalau sedang ada acara adat tradisional yaitu, Hewale-walea.

Hewale-walea  Merupakan sebuah prosesi adat berupa selamatan sekaligus tolak bala untuk bayi yang baru di lahirkan. Tradisi ini mengharuskan Ibu dan anak tersebut untuk mengikuti rentetan kegiatan berkaitan dengan prosesi Hewale-walea ini. Sang Ibu akan menggunakan 'tetandu' di kepalanya yang berasal dari daun sirih yang digulung. Uniknya, Ibu-ibu lainnya menggunakan sarung menutupi kepala dan berjalan di belakangnya ( seperti bermain ular naga panjang, permainan waktu kecil), sementara ibu-ibu yang lain (yang diluar barisan)mengikuti dan mencoba meneriakkan sekeras mungkin ketelinga mereka 'tongka bongo' yang berarti jangan sampai tuli, nah padahal kalau diteriakkin itu sama aja bikin tuli, ye gak ? hehe tapi memang begitulah adat mereka.

Unikmya lagi nih, adat ini telah berlangsung turun temurun dan salah satu tradisi yang wajib bagi Masyarakat Desa Liya untuk dilakukan, meskipun menikah dengan orang luar dan pindah ke tempat lain, selama anak tersebut berdarah liya, Tradisi Hewale-walea ini tetap wajib untuk dilaksanan, mereka mempercayai bahwasanya jika tidak mengikuti adat anak yang dilahirkan akan mudah sakit dan sulit untuk belajar jalan seperti anak normal lainnya. Dan memang terbukti, sehingga mereka tetap menjunjung adat warisan leluhur mereka.  Namun, Readers Tradisi  ini hanya berlaku buat ibu yang baru melahirkan anak pertama dan baru menikah sekali, jadi tergolong langka pelaksanakan juga.

Disini ada beberapa gambar yang Saya ambil saat proses adat Hewale-walea berlangsung.
Perlengkapan adat

adik shafira rewel ikut rentetan kegiatan adat

Suka suasananya, tradisional dan sederhana sekali

Memasang tetandu sebelum jalan berputar
Jalan berputar rumah

Kenapa hanya foto2, ambil ini. bungkus bawa pulang! Kata bapaknya


Beberapa rentetan kegiatan adat


Shafira dan Bapaknya

Shafira Wa Ode

tapi akhirnya senang-senang aja pas di foto