Sepertinya
sudah lama sekali tidak menyapa dengan kisah baru, Beberapa minggu kemarin
sedang banyak event, Yailah.. sok sibuk. Tapi memang sih, sekarang saya sedang
melaksanakan Program Magang di Kantor Swisscontact Wisata II Wakatobi, Asik
donk yah.. Magangnya di salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia, lah
iaa.. Selama program magang, Saya
memegang Community Based Tourism atau Desa Wisata.
Berbicara
tentang Desa Wisata, Di Wakatobi ada 3 Desa Wisata, Desa Wisata Liya Togo di
Wangi-Wangi , Desa Wisata Limbo Langge di Kaledupa dan Desa Wisata Kulati di Tomia timur.
Sebelumnya
Saya sudah pernah menceritakan di blog ini tentang betapa indahnya pemandangan
di Tomia, salah satunya di Desa Kulati.
Kali ini
Saya ingin mengajak Readers untuk
mengunjungi Desa Wisata Liya Togo, beruntung sekali saat itu Saya dihubungi
oleh Bu mursidah, sebagi ketua Keppo Oli (Kelompok Pariwisata Liya Togo) kalau
sedang ada acara adat tradisional yaitu, Hewale-walea.
Hewale-walea Merupakan sebuah prosesi adat berupa selamatan
sekaligus tolak bala untuk bayi yang baru di lahirkan. Tradisi ini mengharuskan
Ibu dan anak tersebut untuk mengikuti rentetan kegiatan berkaitan dengan
prosesi Hewale-walea ini. Sang Ibu akan menggunakan 'tetandu' di kepalanya yang
berasal dari daun sirih yang digulung. Uniknya, Ibu-ibu lainnya menggunakan
sarung menutupi kepala dan berjalan di belakangnya (
seperti bermain ular naga panjang, permainan waktu kecil), sementara ibu-ibu yang lain (yang
diluar barisan)mengikuti dan mencoba meneriakkan sekeras mungkin ketelinga mereka
'tongka bongo' yang berarti
jangan sampai tuli, nah padahal kalau diteriakkin itu sama aja bikin
tuli, ye gak ? hehe tapi memang begitulah adat mereka.
Unikmya
lagi nih, adat ini telah berlangsung turun temurun dan salah satu tradisi yang
wajib bagi Masyarakat Desa Liya untuk dilakukan, meskipun menikah dengan orang
luar dan pindah ke tempat lain, selama anak tersebut berdarah liya, Tradisi
Hewale-walea ini tetap wajib untuk dilaksanan, mereka mempercayai bahwasanya
jika tidak mengikuti adat anak yang dilahirkan akan mudah sakit dan sulit untuk
belajar jalan seperti anak normal lainnya. Dan memang terbukti, sehingga mereka
tetap menjunjung adat warisan leluhur mereka. Namun, Readers
Tradisi ini hanya
berlaku buat ibu yang baru melahirkan anak pertama dan baru menikah sekali,
jadi tergolong langka pelaksanakan juga.
Disini
ada beberapa gambar yang Saya ambil saat proses adat Hewale-walea berlangsung.
 |
| Perlengkapan adat |
 |
| adik shafira rewel ikut rentetan kegiatan adat |
 |
| Suka suasananya, tradisional dan sederhana sekali |
 |
| Memasang tetandu sebelum jalan berputar |
|
 |
| Jalan berputar rumah |
 |
| Kenapa hanya foto2, ambil ini. bungkus bawa pulang! Kata bapaknya |
 |
| Beberapa rentetan kegiatan adat |
 |
| Shafira dan Bapaknya |
 |
| Shafira Wa Ode |
 |
| tapi akhirnya senang-senang aja pas di foto |
No comments:
Post a Comment