| Mas Aji, Partner in this project yang ternyata alumni di kampus yang sama |
Disinilah saya sekarang, Pulau Tomia, Sudah pernah dengar nama pulau
itu sebelumnya?
Pulau tomia merupakan salah satu dari 4 pulau utama di Wakatobi,
Wangi-wangi,Kaledupa Tomia dan Binongko. Tomia merupakan pulau terkecil
diantara keempatnya, Pulau ini juga menjadi tempat diving favorit karena
coralnya yang indah. Ada beberapa spot yang sangat terkenal diantaranya
Marimabuk yang berjarak 10 menit dengan kapal dari daratan desa Waha.
Namun kunjungan Saya kali ini--yang
sebenarnya untuk kerja. Membuat saya menemukan keindahan tersembunyi. Bukan
karang atau pantainya, meskipun itu salah satunya, tapi keramah tamahan
masayarakatnya yang menyambut kami dengan begitu hangatnya, di Desa kulati.
Yang juga sudah dicanangkan menjadi desa wisata ini berjarak ± 7 km dari ibu kota Kecamatan Tomia Timur. Desa ini
dapat di akses menggunakan kenderaan roda dua atau roda empat dengan
membutuhkan waktu 15 menit dari Pelabuhan Usuku dan 20 menit dari Pelabuhan
Waha yang juga merupakan pintu masuk utama untuk ke Pulau ini.
Desa
dengan luas 7.90 km² dan dengan kepadatan populasi ±750 orang ini memiliki hamparan
pemandangan laut tosca berdampingan dengan keasrian pohon-pohon besarnya,
Seperti tempat saya beranjak saat ini, di TIC Desa Wisata Kulati. Beberapa
masyarakat lokal sibuk berbincang, sesekali tawa canda mereka dengan hebohnya,
meski saya tidak paham bahasa Tomia saya seolah merasakan pantulan kehangatan
dari keakraban mereka.
Jam telah menunjukkan pukul
12.00 ‘waktunya makan siang’ gumam
seorang ibu disamping saya lalu memanggil serta kawan-kawan lainnya yang
kemudian membawa berbagai jenis santapan khas tomia. Setelah 2 minggu tinggal
di Wakatobi, ternyata di Pulau Tomia lah first
experience-ku untuk mencicipi Kasoami, yang di mana merupakan makanan khas
masyarakat sulawesi tenggara sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi. Kasoami
ini berasal dari ubi kayu yang di parut lalu di peras sampai kering kemudian di
masukkan kedalam cetakkan yang berasal dari daun kelapa muda, prosesnya tidak
terlalu rumit namun sedikit panjang.
Di depan saya ada berbagai jenis
makanan tradisional, salah satuny adalah ikan parende yaitu sup ikan.
| Nyumm Nyumm.. Yang di bawah itu Kasoami |
Selain itu saya bertemu juga dengan Bapak Tua (kami memanggilnya begitu) yang senang sekali bercerita, Dia punya pengalaman hidup yang luar biasa, meski sudah memasuki usia senja, teman bergaulnya masih kalangan pemuda-pemuda desa, dan dia juga selalu bangga mengatakan dirinya tidak perlu malu bergaul dengan siapa saja toh kita hidup untuk menambah dan membagi wawasan juga kenalan bukan untuk menyusahkan orang. dan juga Mama tua yang di tengah perbincangan kita sore itu tangannya selalu sibuk menumbuk sirih. Dia juga bercerita dengan semangatnya tentang seorang gadis asal Swiss, Maria yang sudah dia anggap anak sendiri ketika Maria menginap beberapa bulan dirumahnya dan menjadi bagian keluarga mereka, dan betapa rindunya mama tua ini dengan Maria yang sudah kembali ke negaranya untuk melanjutkan kuliah karena masa magang nya di Tomia sudah berakhir. Mereka pasangan yang luar biasa. Saya menghirup udara sore, dan menengadahkan kepala kearah laut, melihat kapal-kapal pencari ikan yang kembali ke daratan, serupa miniatur karena begitu jauhnya dari jarak pandang.
| Grave |
![]() |
| I am deeply in love |
![]() |
| Birunyaa |
![]() |
| Raja Empat Kw-kw an ini mah :D Pengen nyebur ih |
| menumbuk sirih pinang |
Apa yang ada di dihadapan saya saat ini benar-benar sempurna, Perfectly food dan Perfectly sea view. Membuat saya betah dan ingin menghabiskan waktu lebih lama disini, sayangnya perjalanan di pulau ini berakhir besok, dan hello office.. It’s time to back to reality, isn't?



No comments:
Post a Comment