12/8/17

Pulau Ubin, Kampung tua di Singapura

Apa yang terlintas dipikiranmu saat mendengar Negara Singapura ? Modern, Sophisticated, Shopping etc.. ect… kan? Tapi tau kah kalian kalau di Singapura juga masih banyak daya tarik wisata yang mengusung tema alam, konservasi dan pedesaan. Sangat jarang wisatawan yang mengetahui akan keberadaan daya tarik wisata tersebut. Karena rata-rata tujuan utama wisatawan mancanegara memanglah untuk berfoto dengan Patung Merlion, belanja di Orchard Street atau bermain di Universal Studio Singapura. Ditulisan kali ini saya ingin membahas salah satu ‘the last rural areas’ di Singapura. Namanya, Pulau Ubin. Karena, letaknya yang memang berada di sebuah pulau yang juga disebut sebagai Kampung terakhir di Singapura.
 
Peta Zonasi Pulau Ubin
Pulau Ubin ini terletak di Selat Johor sebelah timur dari Bandara International Changi. Luasnya sekitar 10km2. Untuk mencapai Pulau Ubin kalian bisa menggunakan MRT (Mass rapid system) lalu turun di stasiun bawah tana merah lalu lanjut dengan bus SBS transit No. 2 menuju Changi Village Terminal dan dari sana langsung menuju Changi Point Ferry yang letaknya sangat mudah ditemukan kalian tinggal menuruni tangga yang terdapat tanda panah.
Wisatawan harus mengantri dan melawati jalur keamanan, X-ray barang bawaan. Perlu diingat, di Singapura cukup ketat dalam hal penjagaan dan keamanan. Wisatawan tidak boleh mengambil gambar sembarangan, khususnya pada jalur keamanan. Salah seorang teman saya beberapa kali kena teguran karena mengambil gambar di tempat keamanan atau memotret anak orang. Meskipun mereka sangat menggemaskan, tetap jaga sikap yah!


Harga sewa kapal atau disebut juga bumpboat sekali perjalanan (one way) adalah sebesar $3/orang.
Asal mula nama Pulau Ubin ini adalah pada zaman  dahulu, Pulau yang berpenduduk mayoritas Melayu ini ditemukan tambang granit yang kemudian digunakan sebagai bahan dasar lantai atau Ubin. Namun pada tahun 1999 tambang granit resmi di tutup. Dan tepatnya pada 3 Juni 2005, Beberapa petani unggas juga di beri pilihan untuk pindahkan ke Kota singapura dan di pelihara di perkebunan yang diakui pemerintah karena saat itu sedang marak wabah flu burung dari Malaysia dan difasilitasi HDB (Housing and Development Board) yaitu perumahan publik milik Negara.

Hingga kini, Pulau Ubin bisa saja terancam punah jika tidak dilestarikan. Untung saja, aktivitas wisata masih tampak dan dari sana masyarakat pulau ubin mendapatkan keuntungan, beberapa rumah menyediakan tempat penyewaan sepeda, mulai dari sepeda ontel, hingga sepeda gunung bermerk.


Guide kami yang sangat ramah
Saat berkunjung disana, saya dan rombongan didampingi seorang guide yang memang specialis konservasi dan alam, namanya Mr. Lee. Dia bukan warga asli Pulau Ubin, namun menerima permintaan paket kampong tur di Pulau Ubin.
Kalau ingin mengetahui perbandingan sebenarnya Pulau Ubin yang sekarang sudah sangat berbeda dengan yang dulu, dari pandangan pengelolaan  pemerintah merubah sedikit demi sedikit seperti menyemen  untuk jalur sepeda, beberapa rumah tradisional ‘ Attap house’ juga tidak terlalu banyak. Serta, Penduduknya mulai berkurang dan berpindah kekota. Beberapa dampak dari pembangunan dan aktivitas kota utama singapura juga menganggu ekosistem di sekitar pulau ubin, margasatwa mulai berkurang meski masih sempat beberapa kali saya mendapati bayi babi rusa yang lewat dan hewan laut seperti mudskipper, kepiting, dan burung.
Selain ekosistemnya, beberapa tujuan wisata lain seperti quarry sisa tambang yang kini dijadikan tempat kayaking, Kuburan muslim dan juga Check Jawa Wetlands. Di Pulau ini Ada 5 quarry, salah satu tempat kayaking saya dan rombongan kala itu adalah Ubin Quarry yang dikelola oleh Klub dari Sport School di Republic Polytechnic. Selain itu, bagi kalian yang senang trekking juga bisa naik ke atas yang jaraknya sekitar 20 menit jalan kaki dari rumah warga yang waktu itu kami tempati makan bertuliskan “Oh yeah.. Oh yeah.. Why you so like that, Buy a drink laa” :D


Instruktur yang juga mahasiswa dari School of Sport di Republic Polytehcnic

Pemandangan dari atas sana memang menyegarkan mata, Terdapat sebuah pagar pembatas yang sebenarnya tidak boleh dilewati karena berbahaya takut terjadi longsor atau tergelincir, dari balik pagar saya mematung melihat jernih air dari Ubin quarry sambil menahan bawaan diri ingin menyanyi A whole new world. Hehe Beberapa kawan saya yang dari singapura meneriakkan kata-kata untuk mendengar pantulan suara sendiri. (dan Saya hampir terbawa suasana ikut meneriakkan nama mantan *eh)
Nah, bagi kalian yang berniat mengunjungi Singapura bolehlah Pulau Ubin dimasukkan dalam itinerary, Karena sisi lain dari Singapura ini patutlah di lestarikan. Jadi jika kalian pulang dari Negara Canggih ini tidak hanya membawa oleh-oleh tapi juga ada pengalaman dan cerita yang luar biasa.


Pemandangan quarry atau bekas tambang granit, jernih banget kan airnya <3

Angga permanap salah seorang anggota rombongan dari Bali

George kawan saya dari Singapura. "Kok galau gitu Abang?" hehe

Kawan dari School of Hospitality, rombongan kami juga (Weesiang, Sewteeng, Amellia and Calvin)

Lihat juga video marketing campaign dibawah hasil kolaborasiku dengan tim. Angga, Ricky, Sew teeng dan Christine.


2 comments:

098Wijoko said...

I never know abwt this place before until I read this. thank you.

Anonymous said...

It's On my next itinerrary list.