4/30/17

Menyusuri jejak peninggalan keraton di Desa Wisata Liya Togo, Wakatobi



View point dari dataran tinggi di Desa Liya Togo

Berkunjung ke Wakatobi tak melulu harus jadi anak pantai, sunbathing, berenang bersama ikan nemo, atau menikmati matahari tenggelam. Wakatobi juga sarat akan kearifan budayanya, pola masyarakat santun dalam tatanan norma hidup bermasyarakat yang masih menyanjung gotong-royo dan warna-warni budaya tiap penyelenggaran adat.  Di Wakatobi ada banyak desa wisata yang dimana 2 (dua) diantaranya telah lanching, dan yang baru-baru ini launching, tepatnya 9 April 2017 adalah Desa Wisata (Community Based Tourism) Liya Togo.
Desa Wisata Liya togo terletak di desa Liya Raya, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi. Dengan luas desa + 6.640 ha, berjarak + 10 km dari pusat ibukota Wakatobi, Pulau Wangi-Wangi, dan berjarak + 8 km dari Bandara Matahora. Untuk mencapai lokasi dapat ditempuh dengan transportasi taksi bandara atau menyewa motor dengan harga 50.000/hari. Desa ini merupakan salah satu jejak sejarah kesultanan Buton di wakatobi dalam penyebaran islam. Hingga beberapa budaya yang dimiliki Desa Liya memiliki pengaruh dari Budaya Wolio di Buton seperti tatanan hidup bermasyarakat, pakaian adat, gelar kebangsawanan, dan beberapa upacara adat yang rutin dilaksanakan tiap tahun. Hanya beberapa dan tetap ada budaya asli yang memang hanya dimiliki oleh masyarakat Liya.
Masyarakatnya ramah, anak kecilnya lucu-lucu dan hobi difoto :D
Pola masyarakat yang masih kental budaya sekaligus beberapa daya tarik wisata alam dan sejarah panjang yang terdapat di desa liya adalah nilai plus menjadikannya salah satu main option destinasi kunjungan saat berada di Wakatobi.  Desa Wisata Liya Togo memiliki kelompok pengelola pariwisata yang berusaha merangkul semua pihak dalam mendukung pariwisata di daerah ini dengan nama KEPPO’OLI (Kelompok Pengelola Pariwisata Liya Togo) yang dibentuk pada tahun 2011.
Desa Liya togo ini adalah sebuah benteng besar yang dibangun  saat pemerintahan Meantuu Liya ke-12, La Ode Ali  di benteng ini terdapat beberapa Lawa (berupa pintu penguhung) disetiap pintu masuk Benteng di setiap lapisnya. Dulunya di beberapa Lawa ditempatkan masing-masing sebuah meriam besar yang mengarah ke luar benteng. Benteng Liya pernah ditetapkan sebagai pusat pertahanan Kesultanan Buton di wilayah timur yang berhadapan langsung dengan laut Banda yang rawan bajak laut  Di samping itu, Benteng Liya juga mengawasi Barata Kaledupa yang tidak jauh letaknya dengan Wilayah Liya yang dapat terlihat dari atas Ponto lange yang terletak di Benteng lapis ketiga dan dahulunya merupakan pos jaga untuk mengawasi musuh yang masuk melalui wilayah timur dan utara.
Benteng Keraton Liya

Pusat dari benteng ini terletak di tanah lapang di daerah tinggi tidak jauh dari pintu gerbang bertuliskan ‘selamat datang di Desa Liya Togo’, Lapangan ini sering menjadi tempat penyelenggaran budaya atau upacara adat, dan juga terdapat sebuah Mesjid Liya (Mubarak), yang berhadapan dengan sebuah Baruga sebagai tempat pertemuan adat untuk memutuskan setiap kebijakan pada kehidupan keraton. Mesjid Mubarak ini adalah mesjid tua yang dibangun pada tahun 1546 setelah 8 tahun dilantiknya Sultan Buton pertama 4 tahun Liya resmi bergabung menjadi bagian Kesultanan Buton. Proses pembuatannya pun unik yakni dari susunan batu karang dengan Bahan perekat dari kapur dan putih telur ayam. Lalu disisi lapangan terdapat beberapa pohon kamboja besar dengan batangnya meliuk kearah tengah lapangan, pohon tua ini seolah  menjadi saksi sejarah liya togo dimasa lampau.
*****
“Nah.. kalau kalian tertarik ke Wakatobi dan ingin mengunjungi Desa Wisata Liya Togo bisa kontak langsung ketua KEPPO OLI (Kelompok Pariwisata Liya Togo) Bu Mursidah 0822-1674-1278 atau Pak Alif  0819-9546-004 untuk mengelola perjalanan kalian selama di Desa Wisata Liya togo agar lebih berkesan dan menyeluruh agar lebih terasa nuansa desa wisatanya :D”

No comments: