8/11/16

Trip; Mengintip Kehidupan dan Upacara Tradisional Penyembuhan Suku Bajo

Teriknya matahari siang itu tidak mememundurkan niat Saya, Mbak Chella, Mbak Putri dan Ibu Ivonuntuk mengejar prosesi Upacara Duata di Kampung Boja Mola, Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi.
Saat itu jam telah menunjukkan pukul 15.00, Dua pasang motor menyusuri gang sempit perkampungan Bajo Mola.
Bajo Mola adalah salah satu perkampungan pengembara laut yang tersebar di beberapa daerah, Orang Bajo atau Bajjau yang menghabiskan hidupnya dengan membangun rumah diatas laut dan mengandalkan kapal kecil sebagai  sarana transportasi mereka. Begitupun dengan mata pencaharian tentu saja dengan mengandalkan hasil tangkapan laut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun perkampungan Bajo Mola ini adalah yang paling dekat dengan darat, sehingga kehidupan mereka sebagian sudah terkontaminasi oleh modernisasi. Bisa dilihat di beberapa rumah bajo mola ini sudah banyak yang menggunakan semen sebagai fondasi rumah mereka.
 
Setibanya di lokasi Upacara adat telah di mulai
Setelah 10 menit memutari perkampungan tersebut, berbekal informasi dari salah satu masyarakat disana, akhirnya kami mampu mengejar kapal yang membawa para penari.
Begitu sampai di lokasi, ternyata upacara tersebut telah berjalan sejak setengah jam yang lalu, beberapa penari manis dengan pakaiaan daerah menarikkan tarian memutari kapal diiringi oleh tabuhan gendang.
Prosesi Upacara adat Duata adalah ritual penyembuhan untuk masyarakat bajo yang menderita sakit keras dan sudah lama tidak kunjung sembuh, bahkan dengan pengobatan medis masih belum tersembuhkan.  Upacara adat di pimpin seorang tokoh adat yang telah biasa mengadakan upacara serupa. Asal nama Prosesi Upacara Adat ini sendiri berasal dari Duata yang berarti Dewata.

Dari sumber yang saya dapat, Prosesi Upacara Duata ini telah berlangsung turun temurun dan masih di lestarikan hingga saat ini, Konon setiap kelahiran anak dari masyarakat bajo bersamaan dengan kelahiran kembarannya yang hidup di laut. Jadi apabila ada yang menderita sakit berarti kembarannya mengambil seluruh semangat hidup yang dimiliki, sehingga terjadi ketidak stabilan sepasang kehidupan.
Menurut cerita porosesi ini dilakukan untuk memberi makan saudara kembar si sakit yang berada di laut. Dalam kehidupan masyarakat bajo mempercayai bahwa setiap kelahiran anak pasti bersama kembaran yang langsung hidup di laut. Dan begitulah mengaa upacara adat ini dilaksanakan adalah tidak lain untuk meminta kembali semangat hidup yang telah direnggut.

Para penari-penari cantik menarikkan tarian bajo yaitu Tarian Ngigal sebagai bentuk memberikan dukungan semangat kepada si penderita sakit yang juga berada diatas satu perahu. Bersamaan dengan nyanyian-nyanyian yang terus di lantunkan .

Diakhir prosesi ritual akan diadakan tes kepada si penderita sakit, dan mengadu ayam yang dimana jika ayam sipenderita sakit menang itu berari proses telah berjalan lancar. Selanjutnya sebagai bentuk kebahagian karena telah terangkat dari sakitnya, si Penderita sakit akan menghamburkan beras.
Salah seorang Ibu-Ibu di Perkampungan Bajo Mola sedang bersampan

Beginilah afternoon hangoutnya.. meet and talks on boat

Bajo Kids

Ibunya Sadar kamera

What a happiest kid life 

Expert in Dive Skill
Putri Marino dan Rikas dari My trip My adventure. 


Tadinya mau lompat tapi karena liat kamera jadi duduk lagi
Senyuman anak suku bajo

Saya dan SC team diatas sampan

No comments: