Teriknya
matahari siang itu tidak mememundurkan niat Saya, Mbak Chella, Mbak Putri dan
Ibu Ivonuntuk mengejar prosesi Upacara Duata di Kampung Boja Mola, Pulau
Wangi-Wangi, Wakatobi.
Saat
itu jam telah menunjukkan pukul 15.00, Dua pasang motor menyusuri gang sempit perkampungan
Bajo Mola.
Bajo
Mola adalah salah satu perkampungan pengembara laut yang tersebar di beberapa
daerah, Orang Bajo atau Bajjau yang menghabiskan hidupnya dengan membangun
rumah diatas laut dan mengandalkan kapal kecil sebagai sarana transportasi mereka. Begitupun dengan
mata pencaharian tentu saja dengan mengandalkan hasil tangkapan laut untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun perkampungan Bajo Mola ini adalah yang
paling dekat dengan darat, sehingga kehidupan mereka sebagian sudah
terkontaminasi oleh modernisasi. Bisa dilihat di beberapa rumah bajo mola ini
sudah banyak yang menggunakan semen sebagai fondasi rumah mereka.
Setelah
10 menit memutari perkampungan tersebut, berbekal informasi dari salah satu
masyarakat disana, akhirnya kami mampu mengejar kapal yang membawa para penari.
Begitu
sampai di lokasi, ternyata upacara tersebut telah berjalan sejak setengah jam
yang lalu, beberapa penari manis dengan pakaiaan daerah menarikkan tarian
memutari kapal diiringi oleh tabuhan gendang.
Prosesi
Upacara adat Duata adalah ritual penyembuhan untuk masyarakat bajo yang
menderita sakit keras dan sudah lama tidak kunjung sembuh, bahkan dengan
pengobatan medis masih belum tersembuhkan. Upacara adat di pimpin seorang tokoh adat yang
telah biasa mengadakan upacara serupa. Asal nama Prosesi Upacara Adat ini
sendiri berasal dari Duata yang berarti Dewata.
Dari sumber yang saya dapat, Prosesi Upacara Duata ini telah
berlangsung turun temurun dan masih di lestarikan hingga saat ini, Konon setiap
kelahiran anak dari masyarakat bajo bersamaan dengan kelahiran kembarannya yang
hidup di laut. Jadi apabila ada yang menderita sakit berarti kembarannya
mengambil seluruh semangat hidup yang dimiliki, sehingga terjadi ketidak
stabilan sepasang kehidupan.
Menurut cerita porosesi ini dilakukan untuk memberi makan saudara
kembar si sakit yang berada di laut. Dalam kehidupan masyarakat bajo
mempercayai bahwa setiap kelahiran anak pasti bersama kembaran yang langsung
hidup di laut. Dan begitulah mengaa upacara adat ini dilaksanakan adalah
tidak lain untuk meminta kembali semangat hidup yang telah direnggut.
Para penari-penari cantik menarikkan tarian bajo yaitu Tarian
Ngigal sebagai bentuk memberikan dukungan semangat kepada si penderita sakit
yang juga berada diatas satu perahu. Bersamaan dengan nyanyian-nyanyian yang
terus di lantunkan .
Diakhir prosesi ritual akan diadakan tes kepada si penderita sakit, dan mengadu ayam yang dimana jika ayam sipenderita sakit menang itu berari proses telah berjalan lancar. Selanjutnya sebagai bentuk kebahagian karena telah terangkat dari sakitnya, si Penderita sakit akan menghamburkan beras.
| Salah seorang Ibu-Ibu di Perkampungan Bajo Mola sedang bersampan |
| Beginilah afternoon hangoutnya.. meet and talks on boat |
| Bajo Kids |
| Ibunya Sadar kamera |
| What a happiest kid life |
| Expert in Dive Skill |
| Putri Marino dan Rikas dari My trip My adventure. |
| Tadinya mau lompat tapi karena liat kamera jadi duduk lagi |
Senyuman anak suku bajo
|

No comments:
Post a Comment