9/21/17

Museum Mini Perang Dunia II di Pulau Morotai



“Kami hitam karena teriknya matahari Morotai, dan kami senang dengan lautnya Morotai yang masih bersih, bening dan penuh beragam terumbu karang” kata Pak Muhlis Eso salah seorang penggiat dan pelestari sejarah di Pulau Morotai dalam perjalanan kami menuju rumah museum perang dunia II mini-nya yang baru  dibangun dengan hasil jerih payahnya sedikit-demi sedikit dari gaji bersih-bersih sekolah.

Pak Muhlis memiliki 2 rumah sederhana yang menggunakan sebagian bangunannya sebagai tempat penampungan koleksi sisa-sisa peninggalan perang dunia II yang beliau cari mulai dari usia 10 tahun.  Asal mula ketertarikan Pak Muhlis pada peninggalan sejarah adalah karena kegemarannya pada film-film sejarah dan kakeknya sendiri yang selalu bercerita mengenai bagaimana kondisi Morotai pada masa perang dulu. Selain itu, Pak Muhlis merasa sedih karena segala peninggalan itu sebelumnya tidak dilirik sebagai sesuatu yang bernilai dan harus dijaga melainkan sebagai rongsokan biasa atau besi putihnya di pretelin lalu di olah kembali dan dijual. Kesadaran Pak Muhlis lah sehingga komunitas pemerhati sejarah di Morotai mulai terbangun. 

Dalam koleksi Pak Muhlis terdapat berbagai jenis peluru, senjata, helm, sepeda hingga botol-botol sisa minuman keluaran tahun 40an. Semua koleksi ini dijaga dan tidak dijual, sebagian juga Pak Muhlis sumbangkan untuk Museum Trikora dan Museum Perang Dunia II yang sementara dalam pengerjaan di Desa Wamena, Daruba.

Saya suka ketika Pak Muhlis mulai bercerita mengenai sejarah, begitu dalam dan bersemangat. Atmosfer seolah-olah sedang memutarkan soundtrack musik perjuangan.
"NKRI memang harga mati, Sejarah itu tidak boleh dilupakan." kata Pak Muhlis.
Morotai yang dulu menjadi pusat landasan tentara sekutu, sekarang menjadi surga liburan memanjakan mata, tapi bukan berarti yang dulu hanya kenangan sementara peninggalannya tak dijaga. Justru wisata sejarah ke Morotai ini menjadi salah satu daya tarik utama yang akan mengingatkan kita bagaimana perjuangan dan dahsyatnya perang dunia kedua yang melibatkan banyak tumpahan darah. Buktinya tidak hanya tampak didarat, namun pesawat-pesawat, kapal dan tank amfibi masih ada yang bersemayam dilautan morotai menjadi rumah-rumah ikan, menyimpan pedihnya kisah yang pernah terjadi disana, di kedalaman lautan Samudra Pasifik.

Semoga semakin banyak orang-orang yang sadar nilai sejarah itu, dan bermunculan Pak muhlis lainnya yang juga turut andil menjaga sejarah. Sukses Museum Mininya Pak! Doakan saya bisa kembali ke Morotai.


No comments: