“Kami hitam karena
teriknya matahari Morotai, dan kami senang dengan lautnya Morotai yang masih
bersih, bening dan penuh beragam terumbu karang” kata Pak Muhlis Eso salah
seorang penggiat dan pelestari sejarah di Pulau Morotai dalam perjalanan kami
menuju rumah museum perang dunia II mini-nya yang baru dibangun dengan hasil jerih payahnya
sedikit-demi sedikit dari gaji bersih-bersih sekolah.
Pak Muhlis memiliki 2 rumah sederhana yang menggunakan
sebagian bangunannya sebagai tempat penampungan koleksi sisa-sisa peninggalan
perang dunia II yang beliau cari mulai dari usia 10 tahun. Asal mula ketertarikan Pak Muhlis pada
peninggalan sejarah adalah karena kegemarannya pada film-film sejarah dan
kakeknya sendiri yang selalu bercerita mengenai bagaimana kondisi Morotai pada
masa perang dulu. Selain itu, Pak Muhlis merasa sedih karena segala peninggalan
itu sebelumnya tidak dilirik sebagai sesuatu yang bernilai dan harus dijaga
melainkan sebagai rongsokan biasa atau besi putihnya di pretelin lalu di olah
kembali dan dijual. Kesadaran Pak Muhlis lah sehingga komunitas pemerhati
sejarah di Morotai mulai terbangun.
Dalam koleksi Pak Muhlis terdapat berbagai jenis peluru,
senjata, helm, sepeda hingga botol-botol sisa minuman keluaran tahun 40an.
Semua koleksi ini dijaga dan tidak dijual, sebagian juga Pak Muhlis sumbangkan
untuk Museum Trikora dan Museum Perang Dunia II yang sementara dalam pengerjaan
di Desa Wamena, Daruba.
Saya suka ketika Pak Muhlis mulai bercerita mengenai sejarah,
begitu dalam dan bersemangat. Atmosfer seolah-olah sedang memutarkan soundtrack
musik perjuangan.
"NKRI memang harga mati, Sejarah itu tidak boleh dilupakan." kata Pak Muhlis.
Morotai yang dulu menjadi pusat landasan tentara sekutu,
sekarang menjadi surga liburan memanjakan mata, tapi bukan berarti yang dulu
hanya kenangan sementara peninggalannya tak dijaga. Justru wisata sejarah ke
Morotai ini menjadi salah satu daya tarik utama yang akan mengingatkan kita
bagaimana perjuangan dan dahsyatnya perang dunia kedua yang melibatkan banyak
tumpahan darah. Buktinya tidak hanya tampak didarat, namun pesawat-pesawat,
kapal dan tank amfibi masih ada yang bersemayam dilautan morotai menjadi
rumah-rumah ikan, menyimpan pedihnya kisah yang pernah terjadi disana, di kedalaman lautan
Samudra Pasifik.
Semoga semakin banyak orang-orang yang sadar nilai sejarah
itu, dan bermunculan Pak muhlis lainnya yang juga turut andil menjaga sejarah. Sukses
Museum Mininya Pak! Doakan saya bisa kembali ke Morotai.

No comments:
Post a Comment